English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Kamis, 12 Juli 2012

Belajar Tartil dan Tilawatil Qur`an

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Al-Qur'an selain bisa menjadi pembela di hari akhir nanti, Al-Qur'an bisa menjadi penghujat. Seberapa penting bacaan Qira'ah itu? Bayangkanlah bagaimana bahayanya jika kita salah mengucapkan salah satu huruf. Misalkan jika ada sebuah buku karya ulama besar pada jamannya yang bernama Sayyid Quthb yang berjudul "Fii Dhilalil Qur'an", yang bermakna "di atas naungan Al-Qur'an", namun kita salah membacanya sehingga menjadi "Fii Dlilalil Qur'an". Apa dampaknya? Fii Dlilalil Qur'an (yang memakai huruf dho, setelah huruf sho di dalam urutan huruf hijaiyah) bermakna "Di atas kesesatan Al-Qur'an". Itulah betapa pentingnya bacaan Al-Qur'an. Bayangkan jika kesalahan pada satu kata saja bisa berdampak pada berubahnya makna yang sangat jauh sekali. Bagaimana mengucapkan huruf, dimana tempat keluarnya huruf (berkaitan dengan makhroj), dan panjang pendeknya ternyata sangat-sangatlah penting.
1.2 Rumusan Masalah
1. Makna Tartil
2. Kewajiban kita terhadap Al-Qur`an
3. Faedah mempelajari Al-Qur`an

1.3 Tujuan
- Untuk menambah wawasan kita tentang pentingnya membaca Al-Qur`an sesuai dengan aturan-aturan yang sudah di tentukan.
- Untuk memenuhi tugas mata kuliah takhsinul qiraah.

PEMBAHASAN

I. TARTIL
A. Makna Tartil
Bacalah Al-Qur`an dengan tartil demikianlah perintah Allah kepada kita. Tartil yang di maksud di dalam ayat adalah membaca Al-Qur`an sesuai dengan aturan-aturan yang sudah di tentukan. Yakni mengeluarkan / menyebutkan huruf –huruf Al-Qur`an sesuai dengan makhroj (tempat keluarnya huruf) dan sifat-sifat huruf.
B. Apa kewajiban kita terhadap Al-Qur`an
Allah yang menurunkan Al-Qur`an, maka Allahlah yang menjaga-Nya, demikian janji Allah dalam sebuah firman-Nya. Hal ini dapat dibuktikan sejak diturunkannya Al-Qur`an. 14 abad yang silam, Al-Qur`an lepas dari interpensi manusia.
Kendati demikian ada perlu usaha dari kita untuk menjaga Al-Qur`an adalah kewajiban yang harus kita penuhi terhadap Al-Qur`an di antaranya :
a. Mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan Al-Qur`an.
b. Mengamalkan Al-Qur`an dalam setiap sudut kehidupan.

C. Fadilah mempelajari Al-Qur~an
- Di kasihi Allah
Dari anas bin Malik ra berkata “ Rasul bersabda” yang artinya : sesungguhnya Allah memiliki kekasih dari kalangan manusia. Para sahabat bertanya? Siapakah mereka wahai Rasulullah? Beliau menjawab mereka yang selalu mempelajari Al-Qur`an adalah kekasih Allah dan dijadikan orang yang dekat dengan-Nya. (HR. Ibnu Majah).
- Di temani para malaikat
Diriwayatkan seseorang yang membacakan Al-Qur`an dan diperlihatkan adanya Nur yang menembus angkasa, setelah dilaporkan kepada Rasulullah. Beliau menerangkan itulah malaikat yang mendengarkan bacaanmu. Sekiranya engkau terus menerus membacanya hingga pagi hari niscaya orang-orang akan dapat menyaksikan apa yang tak dapat terlihat oleh sebagian mereka (HR. Bukhori dan Muslim).
Artinya : baguskanlah suaramu dengan membaca Al-Qur`an .
Maksud dari hadits tersebut :
1. Dengan Takhsin yang berarti membaca Al-Qur`an dengan membaguskan suara.
2. Dengan tajwid yang bearti membaca Al-Qur`an dengan baik dan benar.
3. Dengan Tartil yang artinya membaca Al-Qur`an dengan perlahan-lahan dan tidak tergesa-gesa.
Salah satu cara membaca Al-Qur`an dengan benar kita harus mengetahui makhrijul huruf.
A. Pengertian Makhraj Huruf
Makhraj ditinjau dari morfologi berasal dari fi’il madli : yang artinya keluar. Lalu dijadikan berwazan yang ber-shigat isim makan, maka menjadi . Bentuk jamaknya adalah . Karena itu, makharijul huruf yang diindonesiakan menjadi makhraj huruf, artinya tempat-tempat keluar huruf.
Secara bahasa, makhraj artinya: tempat keluar. Sedangkan menurut istilah makhraj adalah: satu nama tempat, yang padanya huruf dibentuk (atau diucapkan). Dengan demikian, makhraj huruf adalah tempat keluarnya huruf pada waktu huruf tersebut dibunyikan.
Ketika membaca al-Quran, setiap huruf harus dibunyikan sesuai makhraj hurufnya. Kesalahan dalam pengucapan huruf atau makhraj huruf, dapat menimbulkan perbedaan makna dan kesalahan arti pada bacaan yang tengah dibaca.
1. Kalimat segala puji bagi Allah Tuhan semesta Alam). Jika lafazh dibaca (huruf ‘ain berubah menjadi hamzah), maka artinya menjadi: segala puji bagi Allah “rajanya segala penyakit”.
2. Kalimat (tidak ada yang memberi syafa’at). Jika lafazh “ ”dibaca “ ”(suara syin menjadi sin), maka artinya menjadi berubah: “tiada yang memberikan tempelengan.
B. Cara Mengetahui Makhraj Huruf
Untuk mengetahui makhraj suatu huruf, hendaklah huruf tersebut disukunkan atau ditasydidkan, kemudian tambahkan satu huruf hidup di belakangnya, lalu bacalah!. Kaidan menerangkan: Hendaklah kamu menyukunkan huruf atau mentasydidkannya, lalu masukkan hamzah al-washal (alif berharakat). Kemudian ucapkan (dan dengarkan). Saat suara tertahan, maka di sanalah letak makhrajnya.
C. Pembagian Makhraj Huruf
Terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama tentang pembagian makhraj huruf. Imam Syibawaih dan asy-Syatibi berpendapat bahwa makhraj huruf terbagi 16 makhraj, sementara menurut Imam al-Farra terbagi 14 makhraj. Namun pendapat yang masyhur dalam perkara ini adalah yang menyatakan bahwa makhraj huruf terbagi atas 17 makhraj. Ketujuh belas itu terkumpul dalam nazham:
Makhraj huruf berjumlah tujuh belas, menurut pendapat yang masyhur. (makhraj huruf) yang tujuh belas itu terkumpul menjadi lima bagian.
1. Al-Jauf
Al-Jauf artinya rongga mulut. Maksudnya tempat keluarnya huruf yang terletak pada rongga mulut. Dari makhraj ini keluar tiga huruf madd, yaitu alif ( ا ), wawu (و ), dan ya (ي) yang bersukun. Dalam makhraj al-Jauf ada beberapa hal yang harus diperhatikan:
a. Cara membunyikan alif tidak sama dengan cara membunykan Hamjah, karena huruf ini keluar dari makhraj al-halaq yang tersifati oleh Syiddah sementara alif tersifati Rakhawah. Alif yang keluar dari al-Jauf ialah huruf mad, dalam keadaan mati, dan huruf sebelumnya berharkat fathah. Cara membacanya dipanjangkan dua harkat karena menjadi madd ashli. Suara panjang tersebut menekan pada udara yang keluar dari rongga mulut (al-Jauf).
b. Bunyi huruf wau yang bersukun atau dalam keadaan mati tidak sama dengan bunyi huruf wau yang keluar dari bibir (asy-syafawi) yang dalam keadaan hidup atau berharkat. Bunyi wau dalam makhraj al-Jauf adalah wau sukun atau mati dan huruf sebelumnya berharkat dlammah. Cara membacanya dipanjangkan dua harkat karena menjadi madd ashli dan menekan pada udara yang keluar dari rongga mulut (al-Jauf).
c. Bunyi huruf ya yang bersukun tidak sama dengan huruf ya yang keluar dari tengah lidah (wasthul lisan), yang dalam keadaan hidup atau berharkat. Bunyi ya dalam makhraj al-Jauf adalah ya sukun atau mati dan huruf sebelumnya berharkat kasrah. Cara membacanya dipanjangkan dua harkat karena menjadi madd ashli dan menekan pada udara yang keluar dari rongga mulut (al-Jauf).
Di bawah ini nazham tentang huruf-huruf yang keluar dari makhraj al-Jauf. Huruf alif makhrajnya berasal dari al-Jauf, begitupun kedua kawannya (huruf wau dan ya). Semuanya huruf madd, yang pengucapannya menekan pada udara.
2. al-Halq
Al-Halq artinya tenggorokan. Maksudnya, tempat keluarnya huruf yang terletak pada tenggorokan. Dari al-Halq muncul tiga makhraj, yaitu:
a. Aqshal halq adalah pangkal tenggorokan atau tenggorokan bagian dalam. Dari makhraj ini keluar huruf hamzah (ء ) dan ha’ ( ح ).
b. Wastul halq adalah tenggorokan bagian tengah. Dari makhraj ini keluar huruf ‘ain (ع) dan ha’ ( ح ).
c. Adnal halq adalah tenggorokan bagian luar atau ujung tenggorokan. Dari makhraj ini keluar huruf kha’ ( خ ) dan ghain ( غ ). Total huruf yang keluar dari makhraj al-halq sebanyak enam huruf, yang dirangkai dalam nazham.
Kemudian dari pangkal tenggorokan keluar huruf hamzah dan ha’. Lalu dari bagian tengahnya keluar huruf ‘ain dan ha’, dan dari ujungnya keluar huruf ghain dan kha’.
3. Al-Lisan
Al-Lisan artinya lidah. Maksudnya, tempat keluarnya huruf yang terletak pada lidah. Jumlah huruf hijaiyah yang keluar dari makhraj ini ada 18 huruf dan terbagi atas 10 makhraj.
a. Pangkal lisan bertemu dengan langit-langit bagian atas. Kaidahnya:
Pangkal lidah bertemu dengan sesuatu di atasnya, yakni langit-langit bagian atas.
Huruf yang keluar adalah qaf ( ق ). Nama lain dari makhraj ini adalah Aqshal Lisan Fauqa ; artinya pangkal lidah bagian atas.
b. Pangkal lidah, tepatnya sebelah bawah (atau ke depan) sedikit dari makhraj qaf, bertemu dengan langit-langit bagian atas. Kaidanya:
Pangkal lidah, yakni sebelah bawah sedikit dari tempat keluar huruf qaf.
Huruf yang keluar dari makhraj ini adalah kaf ( ك ). Istilah lainnya disebut Aqshal Lisan Asfal artinya pangkal lisan sebelah bawah.
c. Pertengahan lidah bertemu dengan langit-langit di atas. Pertengahan lidah tersebut dimantapkan (tidak menempel) pada langit-langit atas. Kaidahnya:
Pertengahan lidah dengan sesuatu yang berada di hadapannya, yakni langit-langit bagian atas.
Dari makhraj ini keluar huruf jim ( ج ), sin ( س ), dan ya ( ي ). Wastul Lisani adalah istilah yang dikenal bagi makhraj ini.
d. Tepi lidah bersentuhan dengan geraham kanan atau kiri. Ada juga yang mengatakan tepi pangkah lidah dengan geraham kanan atau kiri memanjang sampai ke depan.
Kaidahnya: Dua tepi lidah bertemu dengan gigi geraham. Huruf yang keluar dari makhraj ini adalah dlad (ض ).
e. Ujung lidah bertemu dengan langit-langit yang berhadapan dengannya. Dari makhraj ini keluar huruf lam ( ل ). Kaidahnya:
Dua tepi lidah (sebelah depan) secara bersamaan, setelah makhraj dlad dengan gusi-gusi atas.
f. Ujung lidah, bergeser ke bawah sedikit dari makhraj lam, bertemu dengan langit-langit yang berhadapan dengannya.
Ujung lidah, ke bawah sedikit dari makhraj lam. Dari makhraj ini keluar huruf nun ( ن ).
g. Berdekatan dengan makhraj nun dan masuk pada punggung lidah, tetapi lidah tidak menyentuh langit-langit.
Dekat makhraj nun dan masuk pada punggung lidah. Dari makhraj ini keluar huruf ra’ (ر ).
h. Ujung lidah bertemu dengan pangkal gigi seri atas. Kaidahnya:
Ujung lidah bertemu dengan pangkal gigi seri atas.
Dari makhraj ini keluar tiga huruf, yaitu ta’ ( ت ), tha’ ( ط ) dan dal ( د ).
i. Ujung lidah bertemu dengan ujung gigi seri atas. Kaidahnya:
Ujung lidah bertemu dengan ujung gigi seri atas.
Dari makhraj ini keluar tiga huruf, yaitu dzal ( ذ ), zha’ ( ظ ), dan tsa’ ( ث ).
j. Ujung lidah bertemu dengan ujung gigi seri bawah.
Kaidahnya: Ujung lidah bertemu dengan ujung gigi seri bawah. Dari makhraj ini keluar tiga huruf, yaitu shad ( ص ), zai ( ز ), dan sin ( س ).
4. Asy-Syafatain
Syafatain artinya dua bibir. Maksudnya, tempat keluarnya huruf yang terletak pada dua bibir; bibir atas dan bibir bawah. Huruf yang keluar dari makhraj ini adalah empat huruf, yaitu: fa’ ( ف ), mim ( م ), ba’ ( ب ), dan wau ( و ). Makhraj asy-Syafatain terbagi atas dua makhraj, yaitu:
a. Perut bibir bawah atau bagian tengah dari bibir bawah tesebut dirapatkan dengan ujung gigi atas. Dari makhraj ini keluar huruf fa’. Kaidahanya adalah:
Perut bibir bawah dirapatkan dengan ujung gigi atas.
b. Paduan bibir atas dan bibir bawah. Jika kedua bibir tersebut tertutup/terkatup, keluarlah huruf mim dan ba’. Kaidahnya:
Di antara dua bibir dalam keadaan tertutup.
Dan jika terbuka, keluarlah huruf wau. Kaidahnya:
Di antara dua bibir dalam keadaan terbuka.
5. Al-Khaisyum
Al-Khaisyum artinya aqshal anfi atau pangkal hidung. Dari makhraj ini keluar satu makhraj, yaitu al-gunnah (sengau/dengung), sehingga dari makhraj inilah keluar segala bunyi dengung. Setidaknya ada empat tempat yang padanya terjadi bunyi sengau, yaitu:
Pada bacaan gunnah musyaddad, yakni bacaan sengau pada huruf mim dan nun yang bertasydid:
Pada bacaan idgham bigunnah.
Pada bacaan ikhfa.
Pada bacaan iqlab.
Semua tempat pada bacaan di atas mengeluarkan bunyi yang keluar dari pangkal hidung. Untuk memastikan adanya bunyi yang betul-betul keluar dari pangkal hidung, cobalah memijit hidung pada saat mengucapkan bacaan-bacaan di atas. Apabila suara tertahan, berarti benar-benar bahwa bacaan tersebut mengeluarkan bunyi dari pangkal hidung. Namun bila ada suara yang keluar, berarti bukan al-Khaisyum.
Ustadz Ismail Tekan dalam bukunya Tajwid al-Quran al-Karim memberikan catatan yang bagus tentang makhraj al-Khaisyum. Beliau menjelaskan. Al-Khaisyum (pangkah hidung) yang sebenarnya bukanlah tempat keluar huruf. Hanya karena dengung itu ada hubungannya dengan huruf, maka ia disebutkan juga sebagai makhraj. Harus diketahui bahwa yang sesungguhnya semua huruf itu tidak boleh dikeluarkan dari/melalui hidung, seperti halnya orang yang “sengau”.

TABEL  MAKHRAJ HURUF
No
Makhraj
Makhraj
انفتاح 
استفال  
جهر
شدة   
همس
رخاوة 
استعلاء
تفشى
اطباق
استطالة
Huruf
1
الجوف
rongga dada










ا و ى
2
اقصى الحلق
tenggorokan paling bawah
ء هـ
ء هـ
ء
ء
 هـ





ء هـ
3
وسط الحلق
tenggorokan bagian tengah
ع ح
ع ح
ع

ح
ح




ع ح
4
ادنى الحلق الى الفم
tenggorokan yang dekat dengan mulut
غ خ

غ

خ

غ خ



غ خ
5
اقصى اللسان مما بلى الحلق وما فوقه من الحنك
lidah paling bawah dan langit2 di atasnya


ق







ق
6
اقصى اللسان من اسفل مخرج القاف قليلا وما يليه من الحنك
sedikit diatas makhraj qaf




ك





ك
7
وسط اللسان بينه و بين وسط الحنك
lidah bagian tengah dan langit2 bagian tengah
ج ش ي
ج ش ي
ج ي
ج
ش
ش ي

ش


ج ش ي
8
اول حافة اللسان وما يليه من الاضراس من الجانب
ujung tepi lidah dan gusi samping bagian dalam 


ض


ض
ض

ض
ض
ض
9
حافة اللسان  من ادناها الى منتهى طرفه وما بينها و بين يليها من الحنك الاعلى
ujung lidah dan langit2 


ل







ل
10
طرف اللسان اسفل مخرج اللام قليلا
sedkit diatas makhraj lam


ن







ن
11
مخرج النون لكنها ادخل فى ظهر اللسان
Makhraj nun tapi keluar dari punggung lidah


ر







ر
12
طرف اللسان و اصول الثنايا العليا مصعدا الى جهة الحنك
ujung lidah dan pangkal gigi seri atas yg berbatasan dengan langit2
د ت
د ت
ط د
ط د ت
ت

ط

ط

ط د ت
13
بين طرف اللسان و فويق الثنايا السفلى
ujung lidah dan bagian atas gigi seri bawah
ز س
ز س
 ز

ص س
ص س ز




ص س ز
14
بين طرف اللسان و اطراف الثنايا العليا
ujung lidah dan ujung gigi seri atas
ث ذ
 ث ذ
ظ ذ

 ث
ظ ث ذ
ظ

ظ

ظ ث ذ
15
باطن الشفة السفلى و اطراف الثنايا العليا
bibir bawah dan ujung gigi seri atas 




ف





ف
16
بين الشفتين
di antara 2 bibir


ب و م







ب و م
17
الخيشوم
hidung










ن م


II. TILAWATIL QUR`AN
HAL-HAL YANG HARUS DIKETAHUI OLEH QORI` QORI`AH
Seorang Qori` Qori`ah yang ingin sukses dalam penampilan bacaanya, maka harus mengetahui sekaligus mempraktekan hal-hal yang disebutkan dibawah ini, seperti pengaturan nafas dan suara.
1. NAFAS
Nafas adalah satu bagian yang penting dalam seni baca Alquran. Seoarang Qori` Qori`ah yang mempunyai nafas yang panjang akan membaca kesempurnaan dalam bacaannya, akan terhindar dari wakaf (berhenti) yang bukan tempatnya (tanaffus) atau akan terhindar dari akhir bacaan yang terlalu cepat (tergesa-gesa) karena mengejar sampainya nafas.
Oleh karena itu Qori` harus selalu berusaha memelihara dan meningkatkan masalah nafas ini dengan cara-cara sebagai berikut :
a. Senam pernapasan
b. Lari
c. Berenang


2. SUARA
Bagian yang tidak kalah pentingnya lagi dalam seni membaca Alqur`an adalah masalah suara, sebagaimana yang diketahui bahwa suara manusia itu banyak mengalami perubahan, sejalan dengan bertambahnya usia karena masa yang dialaminya, yaitu dari masa kanak-kanak- remaja, dewasa sampai tua renta.
Dalam kaitannya dengan keperluan seni baca Alqur`an, maka yang paling banyak peranannya adalah masa akhir kanak-kanak, remaja dan dewasa. Dan perubahan-perubahan tersebut pada umumnya adalah dari kanak-kanak ke remaja disitulah akan terjadi perubahan-perubahan yang mengejutkan antara usia 14 sampai 16 tahun. Suatu contoh, ketika masih kanak-kanak bisa bersuara lantang dan melengking serta nyaring dengan hanya memakai suara luar saja. Tetapi setelah menginjak usia remaja, maka suara tersebut sudah berubah total menjadi berat sekali.
Untuk itulah bagi para Qori` yang mengalami perubahan seperti itu harus menggabungkan suara luarnya dengan suara dalamnya, yaitu suara yang menekan. Dan itu perlu dilakukan latihan secara terus menerus untuk bisa menggabungkan serta mengkombinasikan kedu seuara tersebut sehingga menjadi halus dan merdu. Jika sudah bisa menggabungkan dengan baik manfaat lain daru suara tersebut adakah nafas bisa lebih hemat.
Untuk memelihara serta menghaluskan suara memang ada beberapa hal yang harus dilakukan dan juga harus dijauhi yaitu pertama tentang :
Makan/ Minum
Makanan-makanan yang harus dijauhi adalah yang banyak mengandung lemak (berminyak), seperti goring-gorenganm pedas-pedas, makanan yang keras, merokok, kalau buah-buahan seperti nanas, pisang dan lain-lain yang banyak seratnya.
Sedangkan minum-minuman yang harus dijauhi adalah, seperti: es, minuman yang banyak santannya, kopi/the yang terlalu banyak kadar gulanya, dan lain-lain.
Adapun hal-hal yang bisa memberatkan suara adalah seperti: makan yang terlalu kenyang, ketidakstabilan dalam tiidur, yakni kekurangan atau kebanyakan tidur.
Untuk menghaluskan serta menguatkan suara, seorang Qori` bisa melakukan cara-cara seperti yang disebutkan di bawah ini, yaitu :
1. Membiasakan minum air masak yang sudah diembukan di malam hari.
2. Makan kuningan telur ayam kampung, bisa juga dicampur dengan madu asli untuk menguatkan suara.
3. Minum jahe, air putih, dan minum jeruk.
4. Melakukan gorah.


MENGENAL BENTUK LAGU-LAGU TILAWATIL QUR`AN
Bentuk lagu-lagu tilawatil Qur`an mempunyai banyak kelainan jika dibandingkan dengan lagu-lagu lainnya, seperti lagu nyanyian misalnya, maka bisa dipelajari dengan cara menghafalkan not-notnya, seperti: Do Re Mi Fa So La Si Do, karena memang disitulah kuncinya dan juga biasanya lagu-lagu tersebut diiringi dengan music.
Tapi lain halnya dengan lagu lagu tilawatil Qur`an yang tidak bisa dipelajari melalui not-not tersebut, sebab memang bentuk-bentuk gaya lagunya mempunyai ciri khas tersendiri disamping itu lagu-lagu tilawatil Qur`an tidak memakai alat musik untuk mengiringinya, kecuali untuk keperluan lagu-lagu qasidah yang sudah disederhanakan.


CARA CEPAT MEMPELAJARI LAGU-LAGU TILAWATIL QUR`AN
Ada beberapa cara yang dianggap bisa cepat berhasil menguasai serta memahami lagu-lagu tilawatil Qur`an, sehingga bisa menyusun satu maqro` dengan komposisi lagu yang cukup sempurna yaitu :
a. Melalui Tape Recorder
Alat ini banyak sekali manfaatnya dalam kaitannya mempercepat menguasai lagu-lagu tilawatil Qur`an, karena dengan sering mendengarkan, mempelajari serta mempraktekan, maka lama kelamaan akan melekatlah lagu-lagu tersebut ke dalam ingatan kita.
b. Menghafal Tausyih (Qasidah)
Di dalam bait-bait syair qasidah yang bisa dijadikan sebagai standar lagu-lagu tilawatil Qur`an itu terdapat cabang-cabang lagu yang cukup lengkap, sehingga dengan menghafal/mengingatnya akan dapat dengan mudah menerapkan ke dalam ayat-ayat Al-Qur`an.
c. Dengan Menghafal Lagu Basmalah
Maksudnya adalah menghafal basmalah tiap-tiap lagu awalnya (aslinya) seperti contoh lagu nahawand misalnya jika sudah hafal basmalahnya maka untuk meneruskan kepada nada berikutnya akan lebih mudah. Jadi kuncinya terletak pada basmalahnya.


NAMA-NAMA LAGU/ IRAMA SENI TILAWATIL QUR`AN
Lagu-lagu dalam seni baca Al-Qur`an dibagi menjadi dua bagian. 1. Lagu Pokok. 2. Lagu selingan/lagu cabang, ditambah nama fariasi dan tingkat-tingkat suara.
1. Lagu Pokok
Lagu pokok seluruhnya ada 8 (delapan)
1. Lagu Bayyati (Husaini)
2. Lagu Shoba (Maya)
3. Lagu Hijazi (Hijaz)
4. Lagu Nahawand (Iraqi)
5. Lagu Sika
6. Lagu Rasta alan nawa
7. Lagu Jiharka
8. Lagu Banjaka (Rakbi)


2. Lagu Selingan
Nama lagu selingan/ lagu cabang, dan juga termasuk nama fariasi adalah :
1. Syuri 10. Murokkab
2. Ajami (Al-Ajam) 11. Misri
3. Mahur (Muhur) 12. Turki
4. Bastanjur 13. Romi
5. Kard 14. Uraq
6. Kard-Kard 15. Usyaq
7. Naqrisy 16. Zanjiran (Zinjiron)
8. Kurd 17. Syabir alarros
9. Noqrosy 18. Kurdi
Adapun tingkat-tingkat suara adalah :
1. Qoror (dasar/renda)
2. Jawab (nawa) (menengah)
3. Jawabul Jawab (tinggi)
SUSUNAN LAGU TILAWATIL QUR`AN
1. LAGU BAYYATI (HUSAINI) DAN ROSTA ALAN NAWA
Fungsi bacaan syair—syair ini sangat erat kaitannya dengan susunan lagu tilawatil Qur`an, disamping itu juga berguna untuk lebih mempermudah dalam penguasaan lagu-lagu tersebut, dan juga untuk selingan dalam pengajaran tilawatil Qur`an agar terkesan lebih berfariasi dan supaya tidak cepat jemu.
2. LAGU SHOBA (MAYA)
Lagu Shoba terdiri dari 5 bentuk dengan 3 fariasi yaitu ajami, mahur, dan Bastanjar, sedangkan untuk tingkatan suaranya ada 2 yaitu : jawab dan Jawabul Jawab.


3. LAGU HIJAZI (HIJAZ)
Lagu hijazi atau hija terdiri dari 7 bentuk adan 4 fariasi yaitu, Kard, Kard-Kurd- Naqrisy dan Kurd, sedangkan bentuk tingkatan suara ada tiga : Jawab, Jawabul Jawab dan Qoror.
4. LAGU NAHAWAND (IROQI)
Lagu Nahawand terdiri dari 5 bentuk dan dua fariasi/ selingan, yaitu: Nuqrosy dan Murokkab. Ciri-ciri fariasi Nuqrosy adalah bernada rendah (turun) sendangkan fariasi Murokkab bernada tinggi (naik). Adapun tingkat suaranya ada 2 yaitu: Jawab dan Jawabul Jawab.
5. LAGU SIKA
Lagu Sika terdiri dari 6 bentuk dan 4 fariasi/selingan, yaitu: Misri, Turki, Roml dan Uroq. Sedangkan tingkat suaranya ada 3, Qoror, Jawab dan Jawabul Jawab.
6. LAGU ROST DAN ROSTA ALAN NAWA
Lagu Rost dan Rosta alan nawa pada bagian ini selalu berhubungan satu sama lainnya, artinya: kalau memulai dengan lagu rost maka mesti dilanjutkan (disambung) dengan Rosta Alan Nawa. Jadi lagu Rost dibagian ini hanya sebagai pembuka saja. Adapun lagu Rost dan Rosta alan nawa terdiri dari 7 bentuk dan 3 fariasi yaitu : Usyaq, Zanjiron, dan Syabir Alarros. Sedangkan tingkat suaranya ada 2 : Jawab dan Jawabul Jawab.
7. LAGU JIHARKA
Lagu Jiharka terdiri dari 4 bantuk dan 1 fariasi yaitu Kurdi. Sedangkan tingkatan suara ada 2 tingkatan suara yaitu Jawab dan Jawabul Jawab.
8. LAGU BANJAKA
Lagu Banjaka/ Rakbi hanya khusus untuk lagu-lagu dalam bacaan tartilul Qur`an dan lagu-lagu nyanyian (Qosidah) saja, dan jarang sekali bahkan hampir tidak pernah sama sekali diterapkan (dipakai) dalam bacaan tilawatil Qur`an. Kemungkinan besar karena lagu tersebut kurang begitu cocok bila dimasukan atau dipraktekan
9. LAGU BAYYATI (PENUTUP)
Setiap bentuk susunan Lagu Tilawatil Qur`an terutama yang bersifat formal. Selalu diakhiri dengan Lagu Bayyati penutup. Lagu Bayyati penutup terdiri dari 2 bantuk dan 2 tingkatan suara yaitu Jawab dan Jawabul Jawab.

DAFTAR PUSTAKA
Abdurrohim, Acep Iim. 1995. Pedoman Ilmu Tajwid Lengkap. Bandung: Diponegoro.
Al-Jamzuri, Sulaiman. tth. Fathu al-Aqfal. Semarang: Maktabah ‘Alawiyah.
Al-Jazari, Abul Khair Syamsuddin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad. tth. Matan Jazariyah. Surabaya: Maktabah Sa’ad bin Nashir bin Nabhan.
Al-Mahmud, Muhammad. tth. Hidayatu al-Mustafid fi Akhamit Tajwid. Surabaya: Maktabah Muhammad bin Ahmad Nabhan wa Auladihi.Munir, Misbachul, 1995. Pedoman Lagu-kagu Tilawatil Qur`an. Surabaya : Apollo.

sumber

Reactions:

0 comments:

Poskan Komentar

Assalamualaikum.. Temen2 jangan lupa Komentar na ^_^

Alquran @ HamdaniSekumpul